Hal yg harus dilakukan seorang muslim ketika tertimpa musibah
Hallo sahabat lana, jumpa kembali bersama saya ahmad maulana roziqienmau tau ga nih apa aja yg kita lakukan ketika tertimpa musibah? Yuk ah guys langsung aja cekidot....
Sikap Seorang Muslim Ketika Tertimpa MusibahDan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. Al Baqarah : 155-156)
2. Dimensi kemanusiaan, mengharuskan kita untuk peduli, tanggap dan cepat membantu saudara kita dengan segala daya dan potensi yang Allah berikan kepada kita.
3. Dimensi Keimanan, mengharuskan kita untuk merenung, mempelajari dan menangkap hikmah dari musibah yang terjadi.
Kemudian kita bermuhasabah, mendekatkan diri kepada Allah dan bertaubat dari segala kesalahan dan dosa yang kita lakukan.II. PERSFEKTIF SEORANG MU’MIN TERHADAP MUSIBAHSeorang mu’min, saat dia merasakan musibah mendera diri, keluarga atau harta bendanya, makaia akan melihat memandang musibah tersebut berbeda dari pandangan orang yang bukan mu’min. Seorang mu’min akan memandang musibah dari “rasa keimanannya”. Ia akan memandang bahwa musibah yang terjadi kemungkinannya satu dari 3 hal berikut ini :
1. Musibah difahami sebagai ibtila/ujian.Allah swt berfirman dalam QS. Al Ankabuut : 2-3"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allahmengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"Musibah berupa ibtila ini diberikan Allah swt kepada seorang mu’min untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Hal ini bisa kita lihat dari Sirah Nabi Ibahim as. yang diperintahkan meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya, Isma’il as. di sebuah lembah sunyi jauh dari peradaban untuk menguji kecintaan Nabi Ibrahim as kepada Allah swt. Begitupun halnya saat Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, Ismail as. Dan kita mengetahui bahwa ternyata ujian demi ujian yangdialami Nabi Ibrahim as adalah cara Allah swt untuk menempatkan Nabi Ibrahim as. sebagai “Abaa’ul Anbiya”.Ibtila yang juga sangat sulit pernah dialami oleh Qudwah kita, Rasulullah saw. saat menunaikan da’wahnya. Beliau saw. dicaci, dihina, difitnah, diteror, dikucilkan bahkan 2 orang yang menjadi pelindung da’wah beliau yang juga orang-orang yang dikasihinya wafat, yaitu Khadijah ra dan Abu Thalib. Namun Rasulullah saw. mampu menjalaniibtila tersebut dengan bekal keiimanan yang kokoh.
2. Musibah dirasakan sebagai tadzkirah/peringatanAllah swt berfirman dalam QS. Al Anfaal : 25"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya"Musibah berupa tadzkirah akan diberikan oloeh Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, tetapi melakukan kemaksiatan, penyimpangan dan lari dari jihad fi sabilillah. Hal ini bertujuan agar sang hamba kembali memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang Allah swt. perintahkan. Hal ini bisa kita renungkan dari kasus perang Uhud, kasus Ka’ab bin Malik maupun yang terjadi kepada Nabi Yunus as. yangmeninggalkan da’wah karena kaumnya selalu mengabaikan seruan da’wah Nabi Yunus as.
3. Musibah dilihat sebagai adzab/siksaAllah swt. berfirman dalam QS. Asy Syuura : 30"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu)."Musibah berupa adzab akan ditimpakan Allah swt. terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Misalnya kebakaran hutan yang disebabkan karena ulah manusia sendiri, banjir yang disebabkan makin berkurangnya daerah resapan air, longsor yang disebabkan penggundulan hutan, suhu bumi yang makin panas karena pola hidup manusia yang makin tidak karuan, maupun bencana-bencana lain yang secara keilmuan sebenarnya bisa dicegah jika manusia merawat dan menjaga keseimbangan alam titipan Allah swt.Musibah berupa adzab juga bisa terjadi kepada kaum yang durhaka kepada Allah. Baik “durhaka terang-terangan” seperti menolak hukum Allah swt, berbuat maksiat atau mendukung kemaksiatan, secara sengaja dan tanpa malu melakukan perbuatan yang diharamkan Allah swtseperti pamer aurat, legalisasi pelacuran dan perjudian serta banyaknya oknum anggota dewanyang hidup foya-foya saat rakyat hidup susah seolah tidak mau kalah dari oknum pejabat yang korupsi dengan jabatannya. Ada pula kelompok manusia yang “durhaka diam-diam” seperti mengurangi timbangan saat berjualan, membuat istilah yang seolah Islami seperti “pacaran islami”(padahal sudah jelas syaithoni), membuat tontonan yang “berjudul islami” padahal isi tontonannya tak lebih dari penyebaran virus hubbuddunya, permisivisme, hedonisme, free seks dan meracuni generasi muda muslim. Bahkan kalau kita buat list, akan sangat banyak gaya “durhaka diam-diam” kepada Allah swt yang dilakukan oleh banyak orang yang mengaku berislam dan mengaku beriman.Kepada kaum yang seperti itulah Allah swt. memberikan musibah berupa adzab. Hal ini terjadi kepada Fir’aun, serta kroni dan kaumnya karena menolak hukum Allah swt. Juga hancurnya kebudayaan megah yang dibangun kaum Aad dan tsamud karena hubbuddunya, lenyapnya kota Sadum/Soddom karena prilaku seksual yang menyimpang dan free seks yang dilegalkan, musnahnnya kota Pompeei di Italia karena hedonism dan masih banyak bencana yang Allah swt. timpakan kepada kaum-kaum yang lain. Musibah seperti itu adalah adzab dari Allah swt., sebagaimana firmaan-Nya dalam QS. Al A’raaf : 96-9996. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah Kami (Allah) akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
III. SIKAP SEORANG MU’MIN JIKA MUSIBAH MENDATANGINYASebagaimana tadi sudah diungkapkan di atas, bahwa tiap orang pasti akan mengalami musibahdalam kadar yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, maka sebagai seorang mu’min jika ditimpa musibah, maka sikap yang harus diambil adalah :1. Iman dan ridha terhadap musibah tersebut.Allah swt. member pedoman kepada kita agar kita mengimani musibah tersebut sebagai bagiandari Qadha dan Qadar Allah swt. sebagaimana firan-Nya dalam QS. Al Hadiid: 22."Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."Rasulullah saw. juga mengingatkan kita dalam sabdanya :"إِنّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عُظمِ الْبَلاَءِ، وَإِنّ الله إِذَا أَحَبّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السّخَطُ"“Sesungguhnya besarnya balasan sesuai besarnya ujian. Dan Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka diuji. Siapa yang ridha, maka Allah juga ridha, dan siapa yang benci, maka Allah juga benci” (HR At Tirmidzi danIbnu Majah )2. SabarAlllah swt. berfirman dalam QS. Al Baqarah : 155-156"Dan sungguh akan kami berikan cobaankepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".Menurut Imam As Suyuthi dalam Tafsir Jalalain, sabar adalah Al habsu linnafsi ‘alaa maa takrahu, yaitu menahan diri terhadap apa-apa yang dibenci. Sikap inilah yang harus kita miliki saat menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan mengucapkan kalimatul istirjaa (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun ).Rasulullah saw memberikan taujih Nabawinya tentang kesabaran dalam menghadapi musibah, yaitu :“Sungguh menakjubkan urusan orang mu’min bahwa semua urusannya baik, yang demikian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mu’min, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah Ia, maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan, bersabarlah ia, maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim )3. Mencari hikmah di balik musibah yang terjadiDengan berupaya mencari hikmah di balik musibah yang terjadi akan lebih menjadikan hati lebih lapang, ridha kepada takdir Allah swt dan bahkan mampu tetap bersyukur walau musibah menderanya.Ia akan selalu husnuzhan billah dan ingat kepada sabda Junjungan tercinta, Rasulullah saw. :"Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan, yaitu orang yang terkena wabah penyakit thaa’un, orang yang terkena penyakit (yang terkait) perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan orang yangmati syahid dalam perang fi sabilillah." (HR Bukhari dan Muslim)4. IkhtiarMakna ikhtiar disini adalah berupaya mereduksi kerugian yang lebih besar akibat musibah tersebut, baik moril maupun materiil. Kemudian berupaya survive dan fight kembali menatap masa depannya dan tidak terus larut dalam kesedihan yang bisa memunculkan rasa putus asa sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Yusuf : 87"Sesungguhnya tiada berputus asa darirahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."5. Memperkuat Taqorrub ilallah dengan memperbanyak do’a dan dzikirMusibah hakikatnya dari Allah swt. sehingga sudah selayaknya kita sebagai hamba menyandarkan segalanya kembali kepada Allah swt. Karena itulah kita dianjurkan lebih banyak lagi berdo’a dan berdzikir saat mengalami musibah. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa saat seorang mu’min ditimpa musibah dianjurkanberdo’a : "Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa”. Artinya : “Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim)6. MuhasabahSeorang mu’min saat tertimpa musibah hendaklah mawas diri dan bermuhasabah atas apa yang sudah dilakukannya selama ini. Segala yang fana di dunia pada akhirnya akan binasa. Allh swt. Mengingatkan dalam QS. Al A’raaf : 34“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”Muhasabah akan menyadarkan diri kita akan ketidakberdayaan kita sebagai makhluk-Nya. Tiada kekuatan selain Allah swt. Muhasabah akan membuaat kita menjadi tunduk dan patuh kepada Rabb Pemilik alam semesta karena kita sangat membutuhkan Rahman dan Rahim-Nya.“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir 15)“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepadaAllah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik” (QS Al-Hasyr 18-19)7. Bertaubat dengan benarSeorang mu’min harus menyadari bahwa bencana yang timbul bisa jadi disebabkan banyaknya maksiat atau dosa yang diperbuat. Allah swt. Mengingatkan :"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosamu)." (QS. Asy Syuura : 30)Rasul saw. juga bersabda, :"Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orangyang bersalah, adalah orang yang bertaubat." (HR. At Tirmidzi)8. Tetap istiqomah di jalan IslamDalam setiap musibah, yang menjadi fokus perhatian biasanya adalah pada bantuan secara fisik, yaitu materi dan sering terjadi melupakan suatu bantuan yang sebetulnya sangat penting dan esensi, yaitu bantuan “PENGUATAN AQIDAH”. Hal ini perlu menjadi perhatian segenap kaum muslimin karena di balik musibah yang terjadi selalu ada upaya-upaya untuk memurtadkan muslim yang sedang terkena musibah melalui upaya berkedok “bantuan kemanusiaan”."Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orangyang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia MahaMelihat apa yang kamu kerjakan" (QS. Huud : 112)"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya (Islam), lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al Baqarah : 217)Pada titik inilah kita sebagai umat muslim harus menunjukkan upaya kepedulian kepada saudaranya yang terkena musibah agar mereka tidak terjerat rayuan pemurtadan. Bantuan pangan, sandang, medis dan da’i harus dikirim oleh semua elemen umat tanpa harus berteriak dan pamrih akan golongan, kelompok, jama’ah maupun partainya.“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat maksiat dan dosa. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al Maa’idah : 2)IV. KHATIMAHSemoga Allah swt. menjadikan kita menjadi hamba yang tetap shabar saat musibah tiba dan semoga Allah swt menganugerahkan kesabaran kepada seluruh kaum muslimin yang saat ini sedang ditimpa musibah gempa di Tasikmalaya, di Padang dan di berbagai tempat di negeri ini dan juga di berbagai belahan dunia lainnya.Semoga musibah demi musibah khususnya yangterjadi di negeri ini membuka mata hati dan nurani kita semua ; para pemimpin agar mereka adil, para anggota dewan agar mereka amanah, para pengusaha agar mereka jujur, para artis agarmereka sadar dan kita semua, siapapun itu yang mengaku muslim untuk kembali hidup sesuai panduan Allah swt dan Rasul-Nya dan menjauhi perilaku kehidupan yang bisa mendatangkan adzab Allah swt."Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah Kami (Allah) akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al A’raaf : 96)
1. Musibah difahami sebagai ibtila/ujian.Allah swt berfirman dalam QS. Al Ankabuut : 2-3"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allahmengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"Musibah berupa ibtila ini diberikan Allah swt kepada seorang mu’min untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Hal ini bisa kita lihat dari Sirah Nabi Ibahim as. yang diperintahkan meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya, Isma’il as. di sebuah lembah sunyi jauh dari peradaban untuk menguji kecintaan Nabi Ibrahim as kepada Allah swt. Begitupun halnya saat Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, Ismail as. Dan kita mengetahui bahwa ternyata ujian demi ujian yangdialami Nabi Ibrahim as adalah cara Allah swt untuk menempatkan Nabi Ibrahim as. sebagai “Abaa’ul Anbiya”.Ibtila yang juga sangat sulit pernah dialami oleh Qudwah kita, Rasulullah saw. saat menunaikan da’wahnya. Beliau saw. dicaci, dihina, difitnah, diteror, dikucilkan bahkan 2 orang yang menjadi pelindung da’wah beliau yang juga orang-orang yang dikasihinya wafat, yaitu Khadijah ra dan Abu Thalib. Namun Rasulullah saw. mampu menjalaniibtila tersebut dengan bekal keiimanan yang kokoh.
2. Musibah dirasakan sebagai tadzkirah/peringatanAllah swt berfirman dalam QS. Al Anfaal : 25"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya"Musibah berupa tadzkirah akan diberikan oloeh Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, tetapi melakukan kemaksiatan, penyimpangan dan lari dari jihad fi sabilillah. Hal ini bertujuan agar sang hamba kembali memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang Allah swt. perintahkan. Hal ini bisa kita renungkan dari kasus perang Uhud, kasus Ka’ab bin Malik maupun yang terjadi kepada Nabi Yunus as. yangmeninggalkan da’wah karena kaumnya selalu mengabaikan seruan da’wah Nabi Yunus as.
3. Musibah dilihat sebagai adzab/siksaAllah swt. berfirman dalam QS. Asy Syuura : 30"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu)."Musibah berupa adzab akan ditimpakan Allah swt. terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Misalnya kebakaran hutan yang disebabkan karena ulah manusia sendiri, banjir yang disebabkan makin berkurangnya daerah resapan air, longsor yang disebabkan penggundulan hutan, suhu bumi yang makin panas karena pola hidup manusia yang makin tidak karuan, maupun bencana-bencana lain yang secara keilmuan sebenarnya bisa dicegah jika manusia merawat dan menjaga keseimbangan alam titipan Allah swt.Musibah berupa adzab juga bisa terjadi kepada kaum yang durhaka kepada Allah. Baik “durhaka terang-terangan” seperti menolak hukum Allah swt, berbuat maksiat atau mendukung kemaksiatan, secara sengaja dan tanpa malu melakukan perbuatan yang diharamkan Allah swtseperti pamer aurat, legalisasi pelacuran dan perjudian serta banyaknya oknum anggota dewanyang hidup foya-foya saat rakyat hidup susah seolah tidak mau kalah dari oknum pejabat yang korupsi dengan jabatannya. Ada pula kelompok manusia yang “durhaka diam-diam” seperti mengurangi timbangan saat berjualan, membuat istilah yang seolah Islami seperti “pacaran islami”(padahal sudah jelas syaithoni), membuat tontonan yang “berjudul islami” padahal isi tontonannya tak lebih dari penyebaran virus hubbuddunya, permisivisme, hedonisme, free seks dan meracuni generasi muda muslim. Bahkan kalau kita buat list, akan sangat banyak gaya “durhaka diam-diam” kepada Allah swt yang dilakukan oleh banyak orang yang mengaku berislam dan mengaku beriman.Kepada kaum yang seperti itulah Allah swt. memberikan musibah berupa adzab. Hal ini terjadi kepada Fir’aun, serta kroni dan kaumnya karena menolak hukum Allah swt. Juga hancurnya kebudayaan megah yang dibangun kaum Aad dan tsamud karena hubbuddunya, lenyapnya kota Sadum/Soddom karena prilaku seksual yang menyimpang dan free seks yang dilegalkan, musnahnnya kota Pompeei di Italia karena hedonism dan masih banyak bencana yang Allah swt. timpakan kepada kaum-kaum yang lain. Musibah seperti itu adalah adzab dari Allah swt., sebagaimana firmaan-Nya dalam QS. Al A’raaf : 96-9996. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah Kami (Allah) akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
III. SIKAP SEORANG MU’MIN JIKA MUSIBAH MENDATANGINYASebagaimana tadi sudah diungkapkan di atas, bahwa tiap orang pasti akan mengalami musibahdalam kadar yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, maka sebagai seorang mu’min jika ditimpa musibah, maka sikap yang harus diambil adalah :1. Iman dan ridha terhadap musibah tersebut.Allah swt. member pedoman kepada kita agar kita mengimani musibah tersebut sebagai bagiandari Qadha dan Qadar Allah swt. sebagaimana firan-Nya dalam QS. Al Hadiid: 22."Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."Rasulullah saw. juga mengingatkan kita dalam sabdanya :"إِنّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عُظمِ الْبَلاَءِ، وَإِنّ الله إِذَا أَحَبّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السّخَطُ"“Sesungguhnya besarnya balasan sesuai besarnya ujian. Dan Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka diuji. Siapa yang ridha, maka Allah juga ridha, dan siapa yang benci, maka Allah juga benci” (HR At Tirmidzi danIbnu Majah )2. SabarAlllah swt. berfirman dalam QS. Al Baqarah : 155-156"Dan sungguh akan kami berikan cobaankepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".Menurut Imam As Suyuthi dalam Tafsir Jalalain, sabar adalah Al habsu linnafsi ‘alaa maa takrahu, yaitu menahan diri terhadap apa-apa yang dibenci. Sikap inilah yang harus kita miliki saat menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan mengucapkan kalimatul istirjaa (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun ).Rasulullah saw memberikan taujih Nabawinya tentang kesabaran dalam menghadapi musibah, yaitu :“Sungguh menakjubkan urusan orang mu’min bahwa semua urusannya baik, yang demikian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mu’min, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah Ia, maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan, bersabarlah ia, maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim )3. Mencari hikmah di balik musibah yang terjadiDengan berupaya mencari hikmah di balik musibah yang terjadi akan lebih menjadikan hati lebih lapang, ridha kepada takdir Allah swt dan bahkan mampu tetap bersyukur walau musibah menderanya.Ia akan selalu husnuzhan billah dan ingat kepada sabda Junjungan tercinta, Rasulullah saw. :"Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan, yaitu orang yang terkena wabah penyakit thaa’un, orang yang terkena penyakit (yang terkait) perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan orang yangmati syahid dalam perang fi sabilillah." (HR Bukhari dan Muslim)4. IkhtiarMakna ikhtiar disini adalah berupaya mereduksi kerugian yang lebih besar akibat musibah tersebut, baik moril maupun materiil. Kemudian berupaya survive dan fight kembali menatap masa depannya dan tidak terus larut dalam kesedihan yang bisa memunculkan rasa putus asa sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Yusuf : 87"Sesungguhnya tiada berputus asa darirahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."5. Memperkuat Taqorrub ilallah dengan memperbanyak do’a dan dzikirMusibah hakikatnya dari Allah swt. sehingga sudah selayaknya kita sebagai hamba menyandarkan segalanya kembali kepada Allah swt. Karena itulah kita dianjurkan lebih banyak lagi berdo’a dan berdzikir saat mengalami musibah. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa saat seorang mu’min ditimpa musibah dianjurkanberdo’a : "Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa”. Artinya : “Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim)6. MuhasabahSeorang mu’min saat tertimpa musibah hendaklah mawas diri dan bermuhasabah atas apa yang sudah dilakukannya selama ini. Segala yang fana di dunia pada akhirnya akan binasa. Allh swt. Mengingatkan dalam QS. Al A’raaf : 34“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”Muhasabah akan menyadarkan diri kita akan ketidakberdayaan kita sebagai makhluk-Nya. Tiada kekuatan selain Allah swt. Muhasabah akan membuaat kita menjadi tunduk dan patuh kepada Rabb Pemilik alam semesta karena kita sangat membutuhkan Rahman dan Rahim-Nya.“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir 15)“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepadaAllah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik” (QS Al-Hasyr 18-19)7. Bertaubat dengan benarSeorang mu’min harus menyadari bahwa bencana yang timbul bisa jadi disebabkan banyaknya maksiat atau dosa yang diperbuat. Allah swt. Mengingatkan :"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosamu)." (QS. Asy Syuura : 30)Rasul saw. juga bersabda, :"Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orangyang bersalah, adalah orang yang bertaubat." (HR. At Tirmidzi)8. Tetap istiqomah di jalan IslamDalam setiap musibah, yang menjadi fokus perhatian biasanya adalah pada bantuan secara fisik, yaitu materi dan sering terjadi melupakan suatu bantuan yang sebetulnya sangat penting dan esensi, yaitu bantuan “PENGUATAN AQIDAH”. Hal ini perlu menjadi perhatian segenap kaum muslimin karena di balik musibah yang terjadi selalu ada upaya-upaya untuk memurtadkan muslim yang sedang terkena musibah melalui upaya berkedok “bantuan kemanusiaan”."Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orangyang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia MahaMelihat apa yang kamu kerjakan" (QS. Huud : 112)"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya (Islam), lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al Baqarah : 217)Pada titik inilah kita sebagai umat muslim harus menunjukkan upaya kepedulian kepada saudaranya yang terkena musibah agar mereka tidak terjerat rayuan pemurtadan. Bantuan pangan, sandang, medis dan da’i harus dikirim oleh semua elemen umat tanpa harus berteriak dan pamrih akan golongan, kelompok, jama’ah maupun partainya.“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat maksiat dan dosa. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al Maa’idah : 2)IV. KHATIMAHSemoga Allah swt. menjadikan kita menjadi hamba yang tetap shabar saat musibah tiba dan semoga Allah swt menganugerahkan kesabaran kepada seluruh kaum muslimin yang saat ini sedang ditimpa musibah gempa di Tasikmalaya, di Padang dan di berbagai tempat di negeri ini dan juga di berbagai belahan dunia lainnya.Semoga musibah demi musibah khususnya yangterjadi di negeri ini membuka mata hati dan nurani kita semua ; para pemimpin agar mereka adil, para anggota dewan agar mereka amanah, para pengusaha agar mereka jujur, para artis agarmereka sadar dan kita semua, siapapun itu yang mengaku muslim untuk kembali hidup sesuai panduan Allah swt dan Rasul-Nya dan menjauhi perilaku kehidupan yang bisa mendatangkan adzab Allah swt."Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah Kami (Allah) akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al A’raaf : 96)
Komentar
Posting Komentar